Selasa, 15 Februari 2011

Sifat Sabar

Sabar  merupakan salah satu sifat yang menyebabkan pelakunya masuk ke dalam surga. Sabar merupakan suatu amalan yang akan mengangkat pelakunya ke derajat dan tingkatan yang tinggi di dalam surga. Sabar terbagi manjadi dua yaitu sabar dalam menjalankan ketetapan syari’at dan sabar dalam menghadapi musibah. Sabar dalam menjalankan syari’at maksudnya adalah mengurung hawa nafsu dalam menjalankan ketetapan kepada Allah dan menahannya dari maksiat kepada Allah Ta’ala
Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman :
“Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam surga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya.” (QS.Al-Furqan : 75)
Maka barangsiapa yang menginginkan pahala atas amal shalihnya, maka dia wajib bersabar dalam menjalankan amal shalih tersebut.
Ibnu Katsir Rahimahullah berkata : “Sabar itu ada dua macam yaitu sabar dalam meninggalkan perkara-perkara haram dan dosa dan sabar dalam menjalankan ketaatan dan mendekatkan diri kepada Allah. Terdapar pula sabar yang ketiga yaitu sabar dalam menghadapi segala musibah dan kesulitan.” (Tafsir Ibnu Katsir I/285)
Kaum muslimin di tuntut untuk saling mewasiatkan kesabaran di jalan ketaatan kepada Allah Ta’ala, serta saling menyemangati untuk bersabar dalam menjalankan ketetapan syari’at dan menunaikannya dengan penuh kerelaan hati tanpa mengeluh. Namun hal itu tidaklah tercapai dengan mudah kecuali dengan dua hal yaitu cinta dan takut kepada Allah Ta’ala. Sesungguhnya dengan rasa cinta dan takut kita akan mencapai tujuan atas izin Allah.
Sabar yang kedua adalah sabar dalam menghadapi musibah
Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu meriwayatkan bahwa Rasulllah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Sesungguhnya seseorang benar-benar akan mendapatkan kedudukan di sisi Allah. Dia tidak meraihnya dengan amal. Namun Allah senantiasa mengujinya dengan hal-hal yang tidak disukainya hingga Dia memasukkannya ke dalam kedudukan tersebut.” (Diriwayatkan oleh Al-Hakim (I/344) dan Ibnu Hibban di hasankan oleh Al-Albani dalam Shahihul Jami’(1625))
Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firmannya “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan : “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak di uji lagi?” (QS. Al-Ankabut: 2)
Dalam firman Allah Ta’ala yang lain : “Kalian sungguh-sungguh akan diuji terhadap harta dan diri kalian.” (QS. Al-Imran : 186)
Namun jiwa yang mukmin akan senantiasa menghadapi musibah dengan ridha, sabar dan yakin akan pahala besar yang menanti di sisi Allah Ta’ala. Jika Allah mencintai seorang hamba maka Allah akan menguji mereka agar derajat mereka bertambah tinggi jika mereka mau bersabar. Sungguh perkara itu tidak diketahui oleh kebanyakan kaum muslimin. Mereka berburuk sangka kepada Allah dan mereka mengira Allah membenci mereka kerika menguji mereka dengan musibah.Mahmud bin Lubaid Radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘allaihi wasallam bersabda : “Jika allah mencintai suatu kaum maka Allah akan menguji mereka. Barangsiapa yang bersabar dia akan mendapatkan (pahala) kesabaran. Dan barangsiapa yang marah maka dia akan mendapatkan murka.” (HR. At-Tirmidzi (2396) dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam shahihul Jami’ (285)). Jika kita diuji dengan penyakit, musibah atau penghidupan yang yang sulit hendaklah kita mengucapkan  inna lillaai wa innaa ialihi raaji’un. Kemudian kita hiasi dari dengan kesabaran dan kita perbanyak pujian. Sesungguhnya semua itu adalah kedudukan yang tinggi yang hendak dianugerahkan Allah Ta’ala kepada kita.
Jabir bin Abdullah Radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya orang-orang shalih benar-benar mendapat ujian yang berat. Dan tidaklah seorang mukmin terkena musibah dengan tertusuk duri atau yang lebih parah dari itu, melainkan dosanya akan diampuni dan derajatnya akan diangkat.” (HR. Ibnu Hibban, Al-Hakim (IV/320) dan Al-Baihaqi. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahihul jami’ (1660)). Semoga kita semua termasuk golongan orang-orang yang sabar.
(Dikutip dari buku Bersanding Dengan Bidadari di Surga Penulis DR. Muhammad Bin Ibrahim An-Naim, Penerbit Pustaka  Annaba)

http//:An-Naba.com

Selasa, 08 Februari 2011

Bisa nggak kebahagiaan diraih dengan mengerjakan perbuatan keji?


boy_girl_symbolsRealita membuktikan bahwa banyak anak muda yang sengaja cari jalan untuk memuaskan nafsu seksual. Nonton saluran-saluran cabul, pergi ke tempat-tempat zina. Kalau ngobrol, topiknya selalu seks dan tubuh cewek. Pokoknya, kegiatan apa aja yang bisa nyalurin nafsu.
Bagi orang yang seperti ini mestinya ia mencamkan beberapa akibat perbuatan keji:
Pertama: Apakah kamu sudah melupakan Allah?
Seorang pemuda muslim pasti tahu bahwa Allah telah memberikan nikmat dan kesenangan yang cukup untuknya. Dan mengharamkan atasnya kelezatan-kelezatan yang bisa merusak akal, agama, harta, keturunan dan kehormatannya. Oleh karena itu seorang muslim dalam memuaskan kelezatannya berbeda dengan orang kafir yang terbakar dengan syahwatnya.
Siapa saja yang meneliti ayat-ayat Qur’an tentu dapat mengetahui penegasan syariat dalam pengharaman perbuatan keji walaupun dikatakan bisa mendatangkan kebahagiaan dan kelezatan sementara. Di antaranya:
Pengharaman zina.
Allah berfirman:
“Dan janganlah kamu mendekati zina” (QS. Al-Isra’: 32).
Pengharaman (homoseksual).
Allah berfirman:
“Dan kepada Luth, Kami telah berikan hikmah dan ilmu, dan telah Kami selamatkan dia dari (adzab yang telah menimpa penduduk) kota yang mengerjakan perbuatan keji. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang jahat lagi fasik.” (QS. Al-Anbiya’: 74).
Pengharaman onani atau masturbasi.
Allah berfirman:
“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Mukminun)
Sampai kepada firman Allah :
“Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-Mukminun: 5-7).
Pengharaman melihat kepada gambar-gambar yang diharamkan.
Allah berfirman:
“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya.” (QS. An-Nuur: 30).
Dan sabda Nabi :
“Janganlah ikuti pandangan pertama dengan pandangan berikutnya.”
Kedua: Perbuatan keji dan penyakit badan.
Salah seorang dari mereka menceritakan kisah seorang pemuda yang jatuh dalam zina di sebuah negeri yang jauh. Waktu bangun, pelacur yang menjadi teman kencannya sudah pergi dan nulis pesan di kaca rias di kamar itu: “Selamat, Anda telah menjadi anggota baru komunitas penderita AIDS.”
Pemuda itu panik banget. Ia menangis, sadar dari kebahagiaan semu dan berusaha mencari obatnya. Dan tak lama kemudian muncul bintik-bintik hitam pada tubuhnya, semakin lemah staminanya, terkuak rahasianya dan menyebarlah beritanya. Barulah ia menangis dan menangis hingga kering air matanya.
Ia menangis dengan air mata bercucuran
Sementara malam kelam menyelimuti
Menyesali perbuatan dosa yang dilakukannya
Dosa terhadap Raja yang tunduk dan patuh seluruh raja kepada-Nya
Hilanglah kelezatan, dan tinggallah penyesalan. Sirnalah syahwat dan tinggallah keluhan dan aduhan, kebahagiaan apakah semacam ini?
Ketiga: Pengakuan dan penyesalan.
Salah seorang pemuda berkata, “Di hari-hari terakhir bulan Sya’ban, seorang teman menawariku berlibur ke sebuah negara yang melegalkan pelacuran dan minuman keras. Ia menawarkan tiket dan penginapan gratis bersamanya.” Ia melanjutkan ceritanya, “Aku sangat gembira dan menyiapkan koperku, lalu berangkat ke negara tersebut. Kami mengisi waktu dengan bebas yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Suatu malam, aku dan temanku berkumpul di sebuah tempat pelacuran, minum. Kami keluar dengan terhuyung-huyung karena mabuk berat. Aku lihat temanku tak sadarkan diri. Akupun membawanya ke hotel dan memanggil dokter. Temanku muntah darah. Setelah beberapa hari kami pulang ke tanah air, temanku terus menurun kesehatannya. Lalu aku menjenguknya di rumah sakit. Tenyata ia sudah meninggal dunia karena banyak perdarahan dalam yang hebat.
Ia melanjutkan ceritanya, “Sesudah temanku mening¬gal, aku menangis dan keluar. Aku membayangkan seandainya dirikulah orang yang telah menyia-nyiakan hidupnya itu demi mengejar kepuasan syahwat dan kebahagiaan semu yang berakhir dengankemalangan. Dan aku tak bisa menahan tangis dan langsung bertaubat kepada Allah. Aku pun menyambut Ramadhan dengan ibadah, shalat malam, i’tikaf dan membaca Al-Qur’an. Aku telah meninggalkan kehidupan fasik dan gila kepada kehidupan yang penuh dengan rasa aman, tenteram, tenang dan damai.
Keempat: Apakah engkau sudah lupa akhirat!
Rasulullah bersabda: “Pada malam Isra’ aku didatangi dua orang lelaki lalu membawaku keluar menuju Baitul Maqdis. Kami menyinggahi sebuah tanur, ternyata dari dalamnya terdengar suara dan teriakan. Kami melihatnya ternyata di dalamnya terdapat beberapa orang lelaki dan perempuan tanpa busana. Lalu api dari bawah menjilati mereka sehingga mereka pun menjerit. Aku menanyakan tentang orang-orang itu. Keduanya menjawab, “Mereka adalah para pezina laki-laki dan perempuan.” (HR. Al-Bukhari secara lengkap).

Rabu, 02 Februari 2011

Kisah Wanita Yang Selalu Berbicara Dengan Bahasa Al-Qur’an


Quantcast
Berkata Abdullah bin Mubarak Rahimahullahu Ta’ala : Saya berangkat menunaikan Haji ke Baitullah Al-Haram, lalu berziarah ke makam Rasulullah sallAllahu ‘alayhi wasallam. Ketika saya berada di suatu sudut jalan, tiba-tiba saya melihat sesosok tubuh berpakaian yang dibuat dari bulu. Ia adalah seorang ibu yang sudah tua. Saya berhenti sejenak seraya mengucapkan salam untuknya. Terjadilah dialog dengannya beberapa saat.Dalam dialog tersebut wanita tua itu , setiap kali menjawab pertanyaan Abdulah bin Mubarak, dijawab dengan menggunakan ayat-ayat Al-Qur’an. Walaupun jawabannya tidak tepat sekali, akan tetapi cukup memuaskan, karena tidak terlepas dari konteks pertanyaan yang diajukan kepadanya. Abdullah : “Assalamu’alaikum warahma wabarakaatuh.” Wanita tua : “Salaamun qoulan min robbi rohiim.” (QS. Yaasin : 58) (artinya : “Salam sebagai ucapan dari Tuhan Maha Kasih”) Abdullah : “Semoga Allah merahmati anda, mengapa anda berada di tempat ini?” Wanita tua : “Wa man yudhlilillahu fa la hadiyalahu.” (QS : Al-A’raf : 186 ) (”Barang siapa disesatkan Allah, maka tiada petunjuk baginya”) Dengan jawaban ini, maka tahulah saya, bahwa ia tersesat jalan.Abdullah : “Kemana anda hendak pergi?” Wanita tua : “Subhanalladzi asra bi ‘abdihi lailan minal masjidil haraami ilal masjidil aqsa.” (QS. Al-Isra’ : 1) (”Maha suci Allah yang telah menjalankan hambanya di waktu malam dari masjid haram ke masjid aqsa”) Dengan jawaban ini saya jadi mengerti bahwa ia sedang mengerjakan haji dan hendak menuju ke masjidil Aqsa. Abdullah : “Sudah berapa lama anda berada di sini?” Wanita tua : “Tsalatsa layaalin sawiyya” (QS. Maryam : 10) (”Selama tiga malam dalam keadaan sehat”) Abdullah : “Apa yang anda makan selama dalam perjalanan?” Wanita tua : “Huwa yut’imuni wa yasqiin.” (QS. As-syu’ara’ : 79) (”Dialah pemberi aku makan dan minum”) Abdullah : “Dengan apa anda melakukan wudhu?” Wanita tua : “Fa in lam tajidu maa-an fatayammamu sha’idan thoyyiban” (QS. Al-Maidah : 6) (”Bila tidak ada air bertayamum dengan tanah yang bersih”) Abdulah : “Saya mempunyai sedikit makanan, apakah anda mau menikmatinya?” Wanita tua : “Tsumma atimmus shiyaama ilallaiil.” (QS. Al-Baqarah : 187) (”Kemudian sempurnakanlah puasamu sampai malam”) Abdullah : “Sekarang bukan bulan Ramadhan, mengapa anda berpuasa?” Wanita tua : “Wa man tathawwa’a khairon fa innallaaha syaakirun ‘aliim.” (QS. Al-Baqarah : 158) (”Barang siapa melakukan sunnah lebih baik”) Abdullah : “Bukankah diperbolehkan berbuka ketika musafir?” Wanita tua : “Wa an tashuumuu khoirun lakum in kuntum ta’lamuun.” (QS. Al-Baqarah : 184) (”Dan jika kamu puasa itu lebih utama, jika kamu mengetahui”) Abdullah : “Mengapa anda tidak menjawab sesuai dengan pertanyaan saya?” Wanita tua : “Maa yalfidhu min qoulin illa ladaihi roqiibun ‘atiid.” (QS. Qaf : 18) (”Tiada satu ucapan yang diucapkan, kecuali padanya ada Raqib Atid”) Abdullah : “Anda termasuk jenis manusia yang manakah, hingga bersikap seperti itu?” Wanita tua : “Wa la taqfu ma laisa bihi ilmun. Inna sam’a wal bashoro wal fuaada, kullu ulaaika kaana ‘anhu mas’ula.” (QS. Al-Isra’ : 36) (”Jangan kamu ikuti apa yang tidak kamu ketahui, karena pendengaran, penglihatan dan hati, semua akan dipertanggung jawabkan”) Abdullah : “Saya telah berbuat salah, maafkan saya.” Wanita tua : “Laa tastriiba ‘alaikumul yauum, yaghfirullahu lakum.” (QS.Yusuf : 92) (”Pada hari ini tidak ada cercaan untuk kamu, Allah telah mengampuni kamu”) Abdullah : “Bolehkah saya mengangkatmu untuk naik ke atas untaku ini untuk melanjutkan perjalanan, karena anda akan menjumpai kafilah yang di depan.” Wanita tua : “Wa maa taf’alu min khoirin ya’lamhullah.” (QS Al-Baqoroh : 197) (”Barang siapa mengerjakan suatu kebaikan, Allah mengetahuinya”) Lalu wanita tua ini berpaling dari untaku, sambil berkata : Wanita tua : “Qul lil mu’miniina yaghdudhu min abshoorihim.” (QS. An-Nur : 30) (”Katakanlah pada orang-orang mukminin tundukkan pandangan mereka”) Maka saya pun memejamkan pandangan saya, sambil mempersilahkan ia mengendarai untaku. Tetapi tiba-tiba terdengar sobekan pakaiannya, karena unta itu terlalu tinggi baginya. Wanita itu berucap lagi. Wanita tua : “Wa maa ashobakum min mushibatin fa bimaa kasabat aidiikum.” (QS. Asy-Syura’ 30) (”Apa saja yang menimpa kamu disebabkan perbuatanmu sendiri”) Abdullah : “Sabarlah sebentar, saya akan mengikatnya terlebih dahulu.” Wanita tua : “Fa fahhamnaaha sulaiman.” (QS. Anbiya’ 79) (”Maka kami telah memberi pemahaman pada nabi Sulaiman”) Selesai mengikat unta itu sayapun mempersilahkan wanita tua itu naik. Abdullah : “Silahkan naik sekarang.” Wanita tua : “Subhaanalladzi sakhkhoro lana hadza wa ma kunna lahu muqriniin, wa inna ila robbinaa munqolibuun.” (QS. Az-Zukhruf : 13-14) (”Maha suci Tuhan yang telah menundukkan semua ini pada kami sebelumnya tidak mampu menguasainya. Sesungguhnya kami akan kembali pada tuhan kami”) Sayapun segera memegang tali unta itu dan melarikannya dengan sangat kencang. Wanita tua itu berkata lagi. Wanita tua : “Waqshid fi masyika waghdud min shoutik” (QS. Lukman : 19) (”Sederhanakan jalanmu dan lunakkanlah suaramu”) Lalu jalannya unta itu saya perlambat, sambil mendendangkan beberapa syair, Wanita tua itu berucap. Wanita tua : “Faqraa-u maa tayassara minal qur’aan” (QS. Al- Muzammil : 20) (”Bacalah apa-apa yang mudah dari Al-Qur’an”) Abdullah : “Sungguh anda telah diberi kebaikan yang banyak.” Wanita tua : “Wa maa yadzdzakkaru illa uulul albaab.” (QS Al-Baqoroh : 269) (”Dan tidaklah mengingat Allah itu kecuali orang yang berilmu”) Dalam perjalanan itu saya bertanya kepadanya. Abdullah : “Apakah anda mempunyai suami?” Wanita tua : “Laa tas-alu ‘an asy ya-a in tubda lakum tasu’kum” (QS. Al-Maidah : 101) (”Jangan kamu menanyakan sesuatu, jika itu akan menyusahkanmu”) Ketika berjumpa dengan kafilah di depan kami, saya bertanya kepadanya. Abdullah : “Adakah orang anda berada dalam kafilah itu?” Wanita tua : “Al-maalu wal banuuna zinatul hayatid dunya.” (QS. Al-Kahfi : 46) (”Adapun harta dan anak-anak adalah perhiasan hidup di dunia”) Baru saya mengerti bahwa ia juga mempunyai anak. Abdullah : “Bagaimana keadaan mereka dalam perjalanan ini?” Wanita tua : “Wa alaamatin wabin najmi hum yahtaduun” (QS. An-Nahl : 16) (”Dengan tanda bintang-bintang mereka mengetahui petunjuk”) Dari jawaban ini dapat saya fahami bahwa mereka datang mengerjakan ibadah haji mengikuti beberapa petunjuk. Kemudian bersama wanita tua ini saya menuju perkemahan. Abdullah : “Adakah orang yang akan kenal atau keluarga dalam kemah ini?” Wanita tua : “Wattakhodzallahu ibrohima khalilan” (QS. An-Nisa’ : 125) (”Kami jadikan ibrahim itu sebagai yang dikasihi”) “Wakallamahu musa takliima” (QS. An-Nisa’ : 146) (”Dan Allah berkata-kata kepada Musa”) “Ya yahya khudil kitaaba biquwwah” (QS. Maryam : 12) (”Wahai Yahya pelajarilah alkitab itu sungguh-sungguh”) Lalu saya memanggil nama-nama, ya Ibrahim, ya Musa, ya Yahya, maka keluarlah anak-anak muda yang bernama tersebut. Wajah mereka tampan dan ceria, seperti bulan yang baru muncul. Setelah tiga anak ini datang dan duduk dengan tenang maka berkatalah wanita itu. Wanita tua : “Fab’atsu ahadaku bi warikikum hadzihi ilal madiinati falyandzur ayyuha azkaa tho’aaman fal ya’tikum bi rizkin minhu.” (QS. Al-Kahfi : 19) (”Maka suruhlah salah seorang dari kamu pergi ke kota dengan membawa uang perak ini, dan carilah makanan yang lebih baik agar ia membawa makanan itu untukmu”) Maka salah seorang dari tiga anak ini pergi untuk membeli makanan, lalu menghidangkan di hadapanku, lalu perempuan tua itu berkata : Wanita tua : “Kuluu wasyrobuu hanii’an bima aslaftum fil ayyamil kholiyah” (QS. Al-Haqqah : 24) (”Makan dan minumlah kamu dengan sedap, sebab amal-amal yang telah kamu kerjakan di hari-hari yang telah lalu”) Abdullah : “Makanlah kalian semuanya makanan ini. Aku belum akan memakannya sebelum kalian mengatakan padaku siapakah perempuan ini sebenarnya.” Ketiga anak muda ini secara serempak berkata : “Beliau adalah orang tua kami. Selama empat puluh tahun beliau hanya berbicara mempergunakan ayat-ayat Al-Qur’an, hanya karena khawatir salah bicara.” Maha suci zat yang maha kuasa terhadap sesuatu yang dikehendakinya. Akhirnya saya pun berucap : “Fadhluhu yu’tihi man yasyaa’ Wallaahu dzul fadhlil adhiim.” (QS. Al-Hadid : 21) (”Karunia Allah yang diberikan kepada orang yang dikehendakinya, Allah adalah pemberi karunia yang besar”) by tadzkirah.blogspot.com